Rabu, 11 Desember 2013

Bupati di Priangan (A. Sobana Hardjasaputra, dkk.)



Judul               : Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda
Penulis             : A. Sobana Hardjasaputra, H. D. Bastaman, Edi S. Ekadjati, Ajip Rosidi,
   Wim van Zanten, dan Undang A. Darsa.
Penerbit           : Yayasan Pusat Studi Sunda
Tahun Terbit    : Desember 2004
Kota Terbit       : Bandung
Editor                : Ajip Rosidi
Warna Cover    : Coklat muda dengan coklat kekuning-kuningan di tengahnya
Gambar Cover  : Gambar baju daerah dan payung
Ukuran              : 21X14,5 cm
Tebal                 : 190 halaman
Berat Buku        : 230.00 (gram)
ISBN                  : am102763w
Cover                  : Soft Cover 






BAB II
RESUME BUKU
Berikut adalah resume buku “Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda”:
A.    BAB I
BUPATI DI PRIANGAN
Dalam bahasa Sansekerta, istilah bupati berasal dari kata bhu yang berarti “bumi” atau “tanah” , dan pati berarti “tuan”, “pemilik” atau “penguasa”. Dengan demikian, bupati adalah pemilik atau penguasa bumi atau tanah, yang berarti raja.
Priangan dalah salah satu daerah di Jawa Barat dengan luas wilayah lebih kurang 21.500 kilometer persegi atau kira-kira seperenam dari luas Pulau Jawa. Wilayah itu di sebelah utara berbatasan dengan Cirebon dan Jakarta, di sebelah timur berbatasan dengan Cirebon dan Banyumas, sedangkan di sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Banten.
Pengungkapan periode Priangan pada zaman kekuasaan Mataram dan Kompeni, dimaksudkan sebagai latar belakang . karena pentingnya potensi Priangan pada abad ke-19 bagi perekonomian pemerintah kolonial. Adanya ikatan feodal antara bupati dengan rakyat dan masuknya konsep Jawa mengenai kepemimpinan dan kekuasaan ke dalam kehidupan masyarakat Priangan, menyebabkan bupati di Priangan termasuk ke dalam kategori pemimpin kharismatis, pemimpin yang mampu menggerakkan orang lain melalui kekuatan pribadinya.
Dibawah kekuasaan Mataram, bupati di Priangan merupakan Elite penguasa yang memiliki otoritas penuh untuk memerintah di daerah kekuasaannya. Hal ini disebabkan bupati – bupati di Priangan sejajar dengan bupati – bupati di daerah mancanegara yang memiliki kekuasaan besar. Ada dua faktor dasar yang menyebabkan bupati di daerah mancanegara memiliki kekuasaan besar. Pertama, karena struktur pemerintahan Mataram merupakan garis hierarkis, terdiri atas unit – unit kekuasaan yang terpisah – pisah. Kedua, besarnya kekuasaan kepala daerah di mancanegara disebabkan oleh beberapa kondisi, yaitu letak daerah mancanegara jauh dari pusat kekuasaan dan belum ada sarana transportasi dan komunikasi yang memadai.  Kedudukan bupati sebagai penguasa daerah, digunakan oleh pemerintah kolonial sebagai perantara pemerintah dengan masyarakat pribumi dalam pelaksanaan eksploitasinya.
Kedudukan bupati di Priangan cenderung menurun pada bagian akhir kekuasaan Kompeni. Adapun awal dari kekuasaan kompeni di Priangan ini diawali setelah meninggalnya Sultan Agung meninggal (1645) yang menyebabkan Mataram berangsur – angsur menjadi lemah akibat kemelut yang terjadi di dalam kerajaan dan serangan dari luar. Wilayah priangan jatuh ketangan Kompeni dalam dua tahap akibat perjanjian Mataram – Kompeni tahun 1677 dan 1705. Pada tahap pertama kompeni memperoleh wilayah Priangan Barat dan Tengah. Pada tahap kedua Kompeni menguasai wilayah Priangan Timur dan Cirebon. Pada mulanya Mataram menyerahkan daerah Priangan kepada Kompeni hanya sebagai pinjaman. Tetapi karena Mataram bertambah lemah, maka penguasa kerajaan itu makin sering meminta bantuan ke Kompeni. Akibatnya, Kompeni berkuasa penuh atas wilayah Mataram termasuk Priangan. Akan tetapi, penurunan itu hanya terjadi pada kedudukan bupati sebagai kepala daerah.
Pada abad ke-19, kedudukan bupati mengalami masa turun- naik, diawali oleh perubahan drastis, dari bupati sebagai kepala daerah menjadi bupati sebagai aparat pemerintah kolonial ( pemerintah Hindia – Belanda). Perubahan itu terjadi akibat kebijakan pemerintah kolonial yang berupaya untuk menjalankan sistem pemerintahan langsung.
Upaya pemerintah kolonial ternyata gagal akibat kuatnya kedudukan dan peranan bupati sebagai pemimpin tradisional serta ikatan feodal antara bupati dengan rakyat. Namun, struktur pemerintahan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial mengakibatkan kekuasaan bupati menjadi berkurang. Kedudukan dan kekuasaan bupati sebagai kepala daerah merosot akibat proses birokrasi pemerintah kolonial.
Sistem pemerintahan tak langsung yang terpaksa dijalankan oleh pemerintahan kolonial, menyebabkan bupati berperan sebagai perantara pihak kolonial dengan lembaga tradisional ( komunitas desa ). Dalam hal ini bupati harus memainkan peran ganda. Selaku pemimpin tradisional, bupati harus bersikap dan bertindak dalam ikatan feodal tradisional. Sebagai aparat pemerintah kolonial bupati harus menjalankan fungsi dan peranan sesuai dengan status tersebut. Disinilah letak keunikan posisi bupati pada masa kekuasaan kolonial, khususnya pada abad ke-19.
Adanya fungsi ganda bupati menyebabkan para bupati memegang peranan penting, baik di bidang politik maupun di bidang ekonomi dan sosial budaya. Dalam bidanng politik, bupati berperan sebagai basis kekuasaan pemerintah kolonial. Di bidang ekonomi, bupati di priangan memegang peranan penting dalam mekanisme produksi hasil bumi, terutama kopi, karena pemerintah kolonial mempertahankan Preangerstelsel ( Sistem Priangan ). Dalam bidang sosial budaya, bupati berperan sebagai innovator dalam proses akulturasi kebudayaan antara budaya tradisional Sunda di satu pihak dengan budaya Barat di pihak lain.
Dipertahankannya Preangerstelsel, pada satu sisi menyebabkan kedudukan bupati di Priangan berbeda dengan bupati di daerah lain. Pada sisi lain, berlangsungnya Preangerstelsel menyebakan bupati dapat mempertahankan prestise, gaya hidup, dan pengaruh terhadap rakyat sebagai bentuk otoritas yang sah, paling tidak otoritas sebagai pemimpin tradisional.
Meskipun kedudukan formal bupati pada abad ke-18 secara politis mengalami penurunan, tetapi peranan bupati bagi Kompeni tetap penting. Bupati dengan charisma pribadinya merupakan basis kekuatan untuk menggerakkan rakyat, sedangkan Kompeni tidak memiliki pengaruh terhadap rakyat, karena ruang lingkup kekuasaanya hanya sampai bupati. Kedudukan bupati pada abad ke – 19 juga mengalami masa turun – naik, hal ini sejalan dengan silih bergantinya pemimpin pemerintahan dengan politik yang berbeda – beda, tetapi prestise dan pengaruh bupati terhadap rakyat tidak berubah, bahkan bertambah besar. Simbol – simbol berupa gelar kepangkatan dan atribut – atribut kebesaran lain yang diberikan oleh pemerintah kolonial kepada para bupati, seara politis justru menambah prestise dan memperbesar wibawa atau pengaruh bupati terhadap rakyat. Pemberian simbol – simbol kebesaran itu berarti pemerintahan kolonial justru memperkuat feodalisme di kalangan bupati.
Sesungguhnya kebijakan pemerintah kolonial itu memiliki dua tujuan. Pertama, untuk memperbesar loyalitas para bupati kepada pemerintah. Kedua, agar bupati berperan lebih aktif dalam prases produksi hasil tanaman wajib. Dalam prases itu, bupati menduduki posisi dan memegang peranan penting sebagai “ kunci” keberhasilan eksploitasi kolonial. Bagi bupati, hal itu justru menyebabkan mereka mampu memelihara dan mempertahankan konsensus masyarakat akan status bupati. Dalam pandangan masyarakat tradisional, kedudukan bupati bersifat “ sacral “. Pandangan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa jabatan bupati berlangsung secara turun – menurun, bahkan berupaya untuk menghapuskan jabatan tersebut.
Hal itu menunjukkan keunikan posisi bupati dan peranan pentingnnya dalam hubungan kekkuasaan dan kepentingan pemerintah colonial- bupati – rakyat. Dalam hubungan itu terjadi ketergantungan satu pihak pada pihak lain. Berhasil tidaknya kehendak pemerintah kolonial sanngat bergantung pada bupati. Sebaliknya, kewajiban dan kehidupan bupati banyak bergantung pada kebijakan pemerintahan colonial. Pada sisi lain, berhasil tidaknya bupati merealisasikan kehendak pemerintahan kolonial bergantung pada kepatuhan rakyat. Sebaliknya, kehidupan rakyat banyak bergantung pada kepemimpinan bupati.
Dalam hubungan ketiga pihak itulah makna pentingnya kedudukan (posisi) dan peranan bupati di Priangan pada masa kolonial, khususnya sampai dengan akhir abad ke-19, baik bagi pemerintah kolonial maupun bagi masyarakat tradisional. Pada dasarnya, hal itu pula yang menyebabkan pemerintah kolonial tidak kuasa mencabut kedudukan bupati sebagai kepala daerah, apalagi sebagai pemimpin tradisional yang kharismatis.
Hal – hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan dalam kedudukan bupati, baik pada zaman kekuasaan Kompeni maupun pada zaman pemerintah Hindia Belanda, hanya mengangkut kedudukan bupati sebagai kepala daerah. Kedudukan bupati sebagai pemimpin tradisioanal tetap kuat karena berakar pada struktur sosial. Sebagai pemimpin tradisional bupati menduduki status tertinggi dalam struktur sosial tradisional. Kedudukan itu diperkuat oleh ikatan feodal antara bupati dengan rakyat yang melembaga menjadi tradisi, bahkan diperkuat lagi oleh kebijakan tertentu pemerintah colonial. Faktor – faktor tersebut menyebabkan jabatan bupati secara turun – temurun terus berlangsung paling tidak sampai dengan akhir abad ke- 19.
Kinerja para bupati juga menunjukkan bahwa bupati Priangan pada umumnya selain sebagai aparat pemerintah colonial, mereka juga tetap melaksanakan fungsi sebagai pelindung rakyat. Contohnnya dalam memajukan bidang pendidikan di Priangan, Bupati Sumedang Pangeran Suriakusumah Adinata (1836 – 1882) membangun sebuah sekolah. Beliau di kenal sebagai pelopor pendiri sekolah di Priangan. Bahkan ada sekolah yang dibangun atas  biaya sendiri, yang salah satu gurunya adalah bangsa Belanda (G. Warnaar). Bupati Bandung juga Raden Adipati Wiranatakusumah (1846 – 1874) berhasil meningkatkan produksi kopi, memajukan pertanian dan pembangunan daerah. Begitu juga dengan penggantinya Raden Adipati Kusumadilaga (1874 – 1893) berhasil memajukan ekonomi rakyat melalui koperasi. Bupati Limbangan (Garut), Raden Adipati Wiratanudatar (1871 – 1915) memajukan rakyatnya dalam urusan perdagangan dan bidang pendidikan.keberhasilan para bupati tersebut menunjukkan bahwa sekalipun mereka menjadi objek kekuasaan colonial tetapi mereka tetap memiliki kekuasaan untuk menggerakkan rakyat sebagai objek kekuasaan bupati. Jadi dapat dikatakan bahwa anggapan yang menyatakan bahwa bupati zaman kolonial adalah antek kolonial semata – mata dan pemeras rakyat, adalah anggapan atau generalisasi yang keliru, karena tidak sesuai dengan fakta sejarah.
B.     BAB II
R.A.A. WIRATANUNINGRAT JEUNG RAWA LAKBOK
Dumasar kana naskah “Ngabukbak Lakbok” karya R. Muh. Sabri Wiraatmadja
Aya maksudna ngungkab (fragmén) riwayat ngabukbak Lakbok téh. Kahiji, ngébrehkeun karya sastra unik rinéka ungkara dangding mirupa informasi kronologis nu ditulis ku hiji pribadi nu nyaksian tur milu ancrub dina kagiatan mekarkeun hiji wilayah: Tatar Lakbok di Ciamis Kidul. Ieu informasi bisa nambahan data pikeun nyusun sajarah Priangan Wétan. Kadua, pangéling-ngéling ka salah sahiji pupuhu Sukapura, nyaéta Dalem R.A.A. Wiratanuningrat nu nyangking kabupatian Sukapura ka -14 ti taun 1908 nepi ka 1937.
Ngeunaan eusi naskah ”Ngabukbak Lakbok” garis badagna mah nyaritakeun rupa-rupa kajadian jeung kagiatan ti mimiti Lakbok dibaladah nepi ka bisa méré hasil. Upamana waé: gambaran kaayaan daérah Lakbok méméh dibuka, survéy ka daérah-daérah nu bakal dibuka, sistim ngabagi tanah, nyieun jalan jeung ngawangun jambatan, kaayaan Lakbok  Kidul saeunggeus dibuka, pésta sukuran, gunta-gantina camat jeung wadana nu mancén tugas ngawangun Rawa Lakbok kidul, Dalem teu damang nepi ka pupusna.
JEJER NASKAH JEUNG CUTATANANA
Naskah “Ngabukbak Lakbok” jejerna mah nyoko dina usaha Dalem R.A.A. Wiratanuningrat “nuhurkeun” wilayah Lakbok Kidul bu salilana babanjiran nepi ka robah jadi daérah tatanén nu kacida suburna. Éta naskah diwangun ku sawatara jejer di antarana:
I.         Bubuka
Naskah dibuka ku muji ka Gusti Nu maha suci, solawat ka kangjeng Rosul SAW miwah para wargi sareng  sohabat-sohabatna, saperti karya-karya sastra jaman harita sok dibuka heula ku muji ka Gusti Nu Maha Suci jeung solawat terus miharep sangkan ieu naskah bisa kabaca ku anak-incu nu nulisna nu hayang terang mangsana Rawa Lakbok dibuka.

II.      Kaayaan Lakbok Kidul Saméméh Dibukbak
Rawa Lakbok saméméh dibuka bener-bener kaasup leuweung ganggong, ngawates jeung ranca nu taya saatna, panonoban darat jeung sasatoan cai nu garalak.
III.   Alpukah Muka Lakbok
Lakbok Kidul sabenerna mah daérah nu kacida léndona, tapi tara  kagarap lantaran sering kakeueum banjir. Nya timbul gagasan ti Bupati Tasikmalaya, nu ngagem kakawasaan harita, pikeun ngamangpaatkeun daérah Lakbok.
IV.   Léngkah Munggaran Nuhurkeun Rawa Lakbok
Léngkah munggaran “nuhurkeun” Rawa Lakbok ku jalan nyieun susukan leutik pikeun ngocorkeun cai ranca nu salilana ngeyembeng, dikocorkeun ka daérah Cilacap, kalawan disaksian ku Dalem.
V.      Survéy pikeun Ngabaladah Lakbok
Usaha-usaha nuhurkeun Rawa Lakbok, salilana dibaladah heula ku survéy lapangan ku nu kagungan alpukah ku anjeun.
VI.   Ngabagikeun Tanah Hakulah ka Rayat
Waktu harita taun 1926 tanah Lakbok kaasup tanah pamaréntah nu kai-kaina ulah ditaluaran. Tapi dina kanyataanana mah kai-kai leuweung pada naluaran, padahal Dalem Tasikmalaya keur ngamanahan sangkan tanah Lakbok bisa kapimilik ku rayat.
Perkara jalma naluaran kai diunjukeun ka Kangjeng Dalem, saterusna anjeunna sumping nyalira ka désa Mangunjaya, ngempelkeun jalma-jalma jeung para kapala, maparin jangji bakal ngusahakeun sangkan tanah sabuderna bisa kapimilik ku rayat.
Kawijaksanaan Bupati éstu matak bungah saréréa, nu mimitina palaureun meunang hukuman duméh ngaruksak leuweung pamaréntah tungtungna jadi kabungah saréréa, atuh nu marénta idin pikeun ngagarap tanah kacida lobana, umumna marilihan tanah-tanah nu rada luhur nu teu pati jero caina dina usum babanjiran. Tanah-tanah nu kaidinan dibuka kabéh dicatet disarebut “Tanah Bon”, nu meunang dikebonan tapi kaina nu baradag teu meunang ditaluaran saméméh tanah-tanah téa jadi tanah milik. Teu lila tanah-tanah bon statusna tanah garapan téa diganti statusna jadi tanah milik, ditandaan maké “cap singa”, nepi ka sesebutan “Cap Singa” jadi kacapangan pikeun tanah-tanah milik wewengkon Lakbok Kidul.
VII.Arasupna urang Jawa (Tengah) ka Wilayah Lakbok
Kawijaksanaan Bupati Tasikmalaya ngabagi-bagi tanah Lakbok Kidul ka somah-somah pikeun jadi tanah milik sumebar ka mana-mana. Atuh ti mana-mana daratang jalma-jalama nu seja Marénta tanah, pangpangna jalma-jalma nu asalna ti Jawa Tengah. Tah waktu harita mimitina loba urang Jawa nu ngadon bubuara ka Tatar Sunda beulah kidul.
Tanah Lakbok Kidul nu asalna hara-haraeun kiwari gegek ku jalma nu ngaradon bubuara tur meunang tanah pikeun kahirupan arinyana. Ari wilayah nu harita pada muru-muru téh pangpangna désa Mangunjaya, Palédah, jeung leuweung-leuweung sabuderna nu statusna masih mangrupa tanah hakulah, tacan jadi tanah milik. Lobana jalma, pangpangna nu asalna ti Jawa Tengah nu ngadon bubuara di wilayah Lakbok Kidul tayohna kadangu ku Pangagung. Nya terus Dalem Tasikmalaya sumping ku anjeun ka éta wilayah pikeun ngayakeun “tatap muka” jeung sémah-sémah nu ngaradon bubuara téa.
Harita Bupati ngidinan urang Jawa pikeun tetep tumetep di wilayah Lakbok Kidul tur dipaparin tanah milik pikeun kahirupanana, kalawan sarat: kahiji, Arinyana kudu tumut tur ngaluyukeun manéh kana adat istiadat urang Sunda; kadua, tanah-tanah nu geus kapimilik teu meunang dijual tur kudu bener-bener dipiara; ari katiluna kudu jadi patani nu rajin jeung tumut kana hukum nagara.
VIII.  Lakbok Kaala Hasilna
Ngarasa hirupna senang, somah-somah boga niat pikeun ngayakeun salametan bumi bari nanggap wayang. Malah kahayang arinyana mah bari ngalulungsur Kangjeng Dalem sangkan iasa ngaluuhan salametan somah-somah. Kahayang rayat disaluyukeun ku Bupati tur jangji bakal sumping ngaluuhan.
IX.   Salameutan di Kedungdadap
Dina tanggal 16 Juni 1926 salametan somah-somah lumangsung di Kedungdadap, tempat nu asalna hara-haraeun. Ti mana-mana jalma-jalma daratang ngajugjug kedungdadap nu gadadak jadi ramé tur dihias alus pisan. Dalem jeung garwana katut rombonganana sumping ngaluuhan.
Harita kangjeng dalem nandeskeun sakali deui yén tanah-tanah nu geus kapimilik teu meunang dijualan, komo dipaké balantik tanah mah. Teras anjeunna ogé ngagentos ngaran kampung Kedungdadap jadi Yasaratu nu nelah nepi ka ayeuna. Atuh garwana ogé maparin nami Ngastina ka leuweung Rarangkasan nu aya di girangeun Yasaratu pikeun pangéling-ngéling yén lebah dinya asalna mah tegal reunghas! Peutingna cumpon kahayang somah-somah téh nanggap dalang Atmadja ngalalakonkeun babad “Alas Amer” pamundut Dalem Istri.
X.      Nyieun Jalam Anyar nu Ngahubungkeun Palédah-Mangunjaya
Dina bulan Fébruari 1929 ku alpukahna Wadana Pangandaran harita (Rd. Prawirasastra) jalan nu nepungkeun désa Palédah jeung Mangunjaya diwangun kalawan gotong-royong. Éta jalan nepi ka ayeuna kacida mangpaatna, malah harita mah kawentar jalan nu kacida alusna tur pikabetaheun jadi pangjugjugan saréréa. Malah lembur beulah dinya disarebut lembur panyontoan, miéling yasana Rd. Prawirasastra Wadana Pangandaran nu nyontoan nyieun jalan nu alus pisan.
Sajaba ti jalanna lempeng tur resik, ti dinya plung plong téténjoan ka mana-mana, malah runggunukna tatar Cilacap gé atra. Éstu bener-bener asri pikabetaheun.
XI.   Nyieun Sasak nu Ngahubungkeun Mangunjaya-Yasaratu
Dina bulan Juli 1932 Bupati R.A.A. Wiratanuningrat palay ngadamel sasak Ciséél beulah kampung Subang nu bisa nepungkeun desa Mangunjaya jeung Yasaratu, sangkan patalimarga leuwih gampang teu kahalangan ku walungan gedé nu sering banjir. Éta sasak tina awi bitung téh dijieunna gotong-royong tur disaksian langsung ku Bupati bari prak nyontoan ku anjeun. Tangtu baé matak ngahudang sumanget ka sakumna nu digarawe.
Niténan Dalem sakitu soson-sosonna, atuh nu garawé téh sasatna pasegut-segut bari teu weleh galumbira. Komo dina waktu ngariung reureuh gawé mah, balakécrakan ngariung ambengan.
XII.Kagangguna Ékologi
Leuweung Lakbok ayeuna mah geus gegek ku jalma nu muka tanah pihumaeun pikeun kahirupan. Leuweung-leuweung nu mimitina sangar taya hasilan, robah jadi tanah olahan tatanén nu méré hasil tur gedé mangpaatna pikeun kahirupan somah. Tapi sabalikna aya akibatna nu kurang hadé, nyaéta kasaimbangan ékologi kaganggu, di antarana sasatoan Rawa Lakbok nu mimitina rupa-rupa jeung réa pisan jumlahna ayeuna bubar katawuran tur ngurangan.
XIII.  Moro Maung
Kalaburna sasatoan di antarana aya hiji maung (Lakbok) nu kapahung béakeun tempat cicing, terus kabur ka leuweung  Cimadang bawahan Padahérang, ngadon ngagalaksak ngaruksak jalma, nepi ka aya tiluan nu taratu korban maung. Ku kituna Camat Padahérang ngeprik rayat moro maung, ku jalan ngasupan leuweung Cimadang ti unggal jurusan bari direureuwas ku surak jeung sora trak-tréktrokna tatakolan, nepi ka maung téh kaluar tina panyumputan.
Nu moro maung téh unggul, atuh maungna terus digotong ku opatan dibawa ka lembur dipintonkeun heula ka nu taratu naha bener maung ieu nu ngaruksak téh. Sanggeus meunang panyaksi ti para korban, bangké maung téh digotong diiring-iring ku jalma aya ratusna ka kacamatan Padahérang. Malah di lembur Munggangsempu mah, -lembur nu ngawates ti gunung ka jalan-, ku alpukahna lurah gotongan maung téh diiring dogdog: pangheulana gotongan maung nu dihapit ku paburu-paburu maranggul tumbak, kuli jeung bedil, terus diiring ku dogdog jeung jalma-jalma éar salusurakan. Teu tinggaleun Ki Arsadiwangsa nu ngalempréh digotong dina cikrak!
XIV.  Nutup Walungan Cirarangkasan jeung Kiarabandung
Dina bulan April 1933 Wadana Pangandaran, Rd. Prawirasastra minangka ‘jurumudi’ Lakbok Kidul dialih-tugaskeun ka Ciranjang. Ari nu ngagantina Rd. Sumitra, wadana Ciranjang Cianjur, putra Kangjeng adipati Bintang, masih terah Sukapura. Cundukna wadana anyar meneran pisan waktuna jeung Lakbok Kidul banjir gedé, lantaran caah Citanduy nyéblok daérah Lakbok ngaliwatan dua walungan “anak” Citanduy Cirarangkasan jeung Kiarabandung nu ngamuara di tatar lakbok Kidul. Tatar lakbok kidul ngemplang kacaahan aya bulanna tur nimbulkeun karugian nu teu saeutik pikeun nu maratuh di éta wilayah.
Ku kituna ngabendung dua walungan nu kuduna merelukeun waktu tilu bulan, bisa réngsé dina waktu tilu minggu, mangkaning lain gawé énténg-énténg. Cirarangkasan jeung  Kiarabandung dibendung sangkan banjir Citanduy teu nyorog  ka Ciséél. Malah Cirarangkasan mah dijieun dua pendetan mangrupa “balong panjang” nu di mangpaatkeun pikeun melak lauk keur kahirupan rayat. Banjir Lakbok keur sawatara waktu bisa diperuhkeun, malah tatar Lakbok Kidul bisa méré hasil nu leuwih hadé batan saméméhna.
XV.Pésta Gedé di Rarangkasn Taun 1935
Harita ranca jeung leuweung Lakbok geus salin jinis jadi lembur, sawah, jeung pakebonan nu bener-bener bisa méré kahirupan ka sakumna rayat di dinya. Malah kungsi kamashur jadi ‘gudang paré’ pikeun kabupatén tasikmalaya. Patali jeung éta urang Lakbok seja ngayakeun pésta salametan minangka sukuran, sabab ngarasa kahirupan arinyana leuwih onjoy batan ka tukang-tukang.
Nya atuh terus tatahar pikeun ngayakeun pésta gedé, tempatna di lebah Ngastina (Rarangkasan) nu barétona mah asalna tegal reunghas nu hara-haraeun, tapi kiwari jadi lembur pikabetaheun. Tatahar keur pésta téh di antarana nyieun: lapangan maén bal, rohangan gedé keur paméran hasil bumi Lakbok, rihangan keur mintonkeun kasenian (tunil jeung maos “Ngabukbak Lakbok), kandang-kandang sasatoan Lakbok, latar kamonésan rayat (topéng, sulap, sodoran, ujungan), réstoran keur tuang leueut, babancong, jeung balong-balong pikeun nguseup jeung susukan keur ‘balap lauk’, kitu deui tegalan pikeun ngadu langlayangan. Atuh dina waktuna, rarangkasan robah jadi tempat nu kacida raména.
Pésta Rarangkasan téh lumangsungna dua poé kacida raména. Dina acara resmi di antarana nyérénkeun tugu pangéling-ngéling dibukana Lakbok ti para priyayi, pangpangna ti para wadana jeung camat nu kungsi mancén tugas di Pangandaran jeung Padahérang.
XVI.  Lakbok Katarajang Topan (1936) jeung Banjir Gedé (1937)
Keur sumedeng ngahenang-ngahening lubak-libuk loba rijki, Lakbok Kidul dina pertengahan Séptémber 1936 ngadadak katarajang angin topan. Teu lila ukur satengah jam, tapi karuksakanana kaasup rongkah. Teu lila ti harita aya béja yén Pangawulaan teu damang wales, malah ceunah nepi ka lalandong ka Batawi. Keur sawatara urang Pakidulan mah aya topan ngadadak jeung teu damangna Pangawulaan téh jadi haréwos demit: “boa-boa kila-kila”.
Sawatara bulan ti harita dina taun 1937 Lakbok katarajang deui banjir gedé, lantaran caah Citanduy ngabedah tanggul. Cai ngemplang lir sagara, ratusan imah paralid, jalma-jalma ngarungsi ka tanah nu leuwih luhur. Kabupatén Tasikmalaya ngirimkeun Juragan Pati jeung Tuan Kontrolir pikeun mariksa kaayaan, langsung ka daérah nu kabanjiran téa kana parahu. Pasosoré waktu rombongan masih kénéh dina parahu rék hanjat ka hiji lembur aya kajadian. Rayat guyur, horéng Pangawulaan pupus !
XVII.    Kangjeng Dalem R.A.A. Wiratanuningrat wapat
Pangawulaan mulih ka Rahmatullah, layonna dicandak ti Tasikmalaya ka Manonjaya baris dipendem di makam Tanjunglaya, makam kulawarga jeung para bupati terah Sukapura.
C.    BAB III
D.    BAB IV
KAUTAMAAN ISTRI
I
Pada tahun ini (1911) telah tepat 7 tahun lamanya penulis menjadi guru Sakola Istri (Sekolah Gadis) di Bandung. Pada mulanya penulis mengikuti kehendak Kanjeng Tuan Inspektur Sekolah C. den Hamer. Beliaulah yang pertama kalinya mendirikan sekolah bagi anak-anak wanita pribumi (bangsa Indonesia) di Bandung.
Sekolah tersebut dibuka pada tanggal 16 Januari 1904. Waktu itu muridnya 60 orang dan gurunya 3 orang. Adapun tempatnya di paseban barat, depan pendopo Kabupaten Bandung yang sekarang (1911) ditempati kantor Bandoengsche Afdeelings Bank (sekarang BRI).
Sebelum menjadi guru, penulis senang mengajar anak-anak perempuan, terutama dari kalangan keluarga sendiri, yaitu mengajar merenda, menyulam, merancang pakaian, dan tatakrama pergaulan (sopan santun). Ketika dipanggil oleh Kanjeng Tuan Inspektur Sekolah
C. den Hamer bahwa akan diankat menjadi guru sekolah, penulis sangat gembira.
Apakah Kaum Muda itu dan bagaimana kehendaknya?
Adapun yang dinamakan Kaum Muda itu ialah bangsa kita, wanita dan pria pribumi, (suku bangsa) Sunda, Melayu, Bugis, Makasar, dan lain-lain. Istilah Kaum Muda itu berasal dari cendekiawan orang Melayu bernama Abdul Rivai.
Yang dipikirkan oleh penulis siang malam dengan susah payah sekalipun tak lain hanyalah masalah sekolah wanita terutama hal-hal berikut.
1.      Para orang tua agar ingin menyekolahkan anak perempuan mereka dan memahami fungsi dan manfaat bersekolah.
2.      Anak-anak sendiri mau bersekolah dan mau mengikutinya sampai tamat.
3.      Pelajaran apa yang perlu diajarkan kepada anak-anak perempuan itu serta harus bisa apa dan sampai mana untuk bekal hidup mereka kelak.
4.      Memperhatikan tingkah laku wanita yang baik dan yang buruk untuk dijadikan contoh bagi anak-anak.
5.      Kemudian bertanya-tanya kepada orang-orang tua, para cendekiawan, para bujangga, bahkan kepada para bupati, walaupun segan memberanikan diri juga, menanyakan apa yang menjadi kebutuhan kaum wanita agar mereka tidak sampai hidup sengsara.
Adapun usaha yang dilaksanakan untuk mendidik anak-anak itu tidak ada lagi kecuali dua macam, yaitu menasehati dan memberi contoh.
Coba apa yang dilambangkan dengan kapal besar itu?
Adapun yang dilambangkan dengan kapal besar itu ialah bahwa sekarang ini di Bandung berdiri organisasi yang diatur oleh Tuan Inspektur Sekolah J. C. J. van Bemmel. Tujuannya ialah akan memajukan anak-anak perempuan. Oleh karena itu, organisasi tersebut dinamai oleh Kanjeng Bupati Bandung (R. A. A. Martanegara) Kautamaan Istri (Keutamaan Wanita).
II

A.    Pembentukan Organisasi
Organisasi Kautamaan Istri berdiri pada tanggal 5 Nopember 1910. Pada waktu itu penulis dipanggil oleh Tuan Residen W.F.L. Boissevain dan harus menghadap di karesidenan pada hari Minggu jam 19.00 malam.
Pada pertemuan itu detetapkan pengurus organisasi, yaitu para nyonya dan para Raden Ayu saja, yang sama-sama ingin memajukan kecerdasan anak perempuan Sunda.



B.     Cara Kerja
1.      Komisi meminta pengurus agar organisasi Kautamaan Istri itu mendapat kekuatan yang kokoh (kekuatan hukum).
2.      Pengurus secara bergilir masing-masing orang (seorang nyonya memeriksa “apa kekurangan sekolah itu, apa yang harus diajarkan, dan apa yang kurang baik.”
3.      Setelah semua anggota pengurus mengunjungi sekolah, kemudian komisi mengadakan pertemuan untuk membicarakan hasil pemeriksaan itu.

C.     Biaya Kegiatan
1.      Kanjeng Tuan Inspektur membuat surat edaran kepada tuan-tuan dan nyonya-nyonya (pembesar orang Belanda) untuk memohon bantuan, barangkali mau memberi bantuan berupa uang iuran atau sumbangan sekali saja.
2.      Begitu pula Kanjeng Bupati Bandung membuat surat edaran kepada para menak dan orang tua anak-anak sekolah wanita dengan maksud seperti tersebut (nomor 1) di atas.
3.      Jika uang iuran tidak mencukupi, akan mengadakan lotre yang besar-kecilnya dan caranya dipertimbangkan oleh Kanjeng Tuan Residen dan Kanjeng Tuan Inspektur.
4.      Jika uang itu ada lebihnya, akan digunakan untuk mendirikan sekolah wanita di tempat lain, seperti di Garut atau dimana saja yang dipandang perlu ada sekolah wanita.

III

Apakah perlu wanita itu bersekolah supaya pintar?
Sebagian orang berpendapat sebagai berikut.
1.      “ah, wanita itu tak usah sekolah, karena walaupun pintar tidak akan punya kedudukan seperti laki-laki.”
2.      “ah, percuma wanita disekolahkan, sebab kalu sudah pandai menulis, suka digunakan membuat surat-surat cinta sebagai perbuatan iseng yang mendorong berperilaku tak baik.”
3.      Kaum santri berpandangan, “his, wanita itu bukan disekolahkan, melainkan agar mempelajari pengetahuan agama, belajar salat, mempelajari sifat 20, dan tasawuf supaya baik hati dan untuk menahan nafsunya, karena wanita itu harus teguh benteng pertahanannya.”
4.      “wanita itu tidak boleh terlihat oleh laki-laki lain, kecuali oleh suaminya dan muhrimnya. Oleh karena itu wanita tidak baik disekolahkan.”

IV

Sekolah itu disebut “de bron van het leven” (modal hidup) oleh Kanjeng Tuan Inspektur. Sebab, selain pelajaran pokok, anak-anak itu diberi pelajaran lain lagi sebagai berikut.
1.      Kebersihan
2.      Tatakrama
3.      Berbicara
4.      Disiplin dalam pemakaian waktu
5.      Taat
6.      Gembira
7.      Baik hati
8.      Hemat
9.      Berpikir atau memilih

V

Sekarang akan menceritakan pendapat dokter tentang anak.
Menurut Dr. Raden Saleh, penyakit itu ada 2 macam.
1.      Penyakit karena pembawaan; sejak lahir penyakit itu sudah ada.penyakit itu disebut penyakit keturunan (ervelijke ziekten atau kealen). Artinya penyakit itu sifat dan tabiatnya merupakan keturunan dari orang tua.
2.      Penyakit adat kebiasaan; yaitu penyakit yang datang kemudian sesudah lahir, seperti sakit kepala, sakit ulu hati, sakit perut, dan lain-lain.

Kaum wanita bangsa pribumi itu pertama-tama harus tahu tentang segala macam urusan wanita. Hal itu menurut hemat penulis ada 6 macam.
1.      Mengurus anak sejak bayi hingga masanya untuk disekolahkan
2.      Menjaga anak selama masih sekolah
3.      Sesudah dewasa dan tamat sekolah
4.      Mempunyai suami dan berumah tangga
5.      Tidak bersuami atau ditinggal suami tidak aka nada yang memberi nafkah
6.      Kehidupan wanita disamping mempunyai suami
Sumbangsih raden dewi sartika
Wanita Bumiputera

Apakah yang diperlukan untuk peningkatan intelektual dan moral wanita bumiputera pada umumnya?
Menurut hemat saya yang sederhana, dalam hal ini perbedaan wanita dengan pria tidaklah sangat besar. Disamping berpendidikan, wanita itu harus terpelajar pula. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh terhadap moral wanita. Pengetahuan demikian diperoleh hanya di sekolah.
Pendidikan dimaksud terutama meliputi hal-hal sebagai berikut.
1.      Pelajaran mengurus rumah tangga
2.      Pengetahuan tentang adat istiadat
3.      Pelajaran di dapur
4.      Pelajaran merawat orang sakit
5.      Pelajaran agama

Pendidikan melalui sekolah yang dewasa ini dapat dicapai oleh puteri-puteri kita, masih sangat tidak mencukupi.
Seyogiayanya upaya perluasan pendidikan kejuruan bagi kaum wanita untuk pekerjaan sebagai bidan, kerani (klerk), juru tik, pemegang tata buku (boekhoudster), petani bunga, dan sebagainya haruslah didukung. Dalam masyarakat Eropa ttelah ditarik banyak manfaat dari wanita sebagai pekerja, sebagaimana diketahui dari kenyataan-kenyataan yang ada. Maka saya tidak mengerti mengapa manfaat seperti itu tidak dapat ditarik dari kaum saya sendiri.
Pengaruh pendidikan lambat laun berperan pula dalam perkawinan anak, sebelum orang sama sekali insaf tentang kekeliruan perkawinan anak-anak. Maka lagi-lagi sang wanita sendirilah yang harus menyadari bahwa perkawinan baru sempurna, apabila berdasarkan kemauan yang bebas dari pria dan wanita calon pengantin, bukan karena terpaksa mengikuti kehendak orang tua mereka.
Isteri harus taat menjadi abdi suami. Ia harus begitu karena tidak berdaya. Ia tidak pernah hidup mandiri, maka ia tidak akan tahu bagaimana memperoleh kebutuhan hidup dengan cara yang jujur, jika ia diusir dari rumah suaminya.


KONSEP PENDIDIKAN RADEN DEWI SARTIKA

Endang Saifuddin Anshari, M.A. dalam tulisannya pada Bulletin Masjid Salman ITB awal tahun 1980-an menyatakan bahwa keunggulan R. Dewi Sartika dibandingkan dengan R.A. Kartini dalam rangka upaya memajukan kaum wanita Indonesia adalah R. Dewi Sartika telah mencapai tingkat yang kongkrit dalam bentuk terwujudnya lembaga pendidikan yang dinamai Sakola Istri, sedangkan R.A. Kartini baru dalam tingkat pemikiran dan keinginan. Sementara itu, seorang sejarawan senior di Bandung pernah mengatakan bahwa kelemahan R. Dewi Sartika terletak pada belum adanya konsep pendidikan yang mendasari lembaga pendidikan yang didirikannya.
Pendekatan Lingkungan
Dalam rangka menyusun konsep pendidikan bagi kaum wanita, Dewi Sartika melakukan pendekatan terhadap lingkungan sekitarnya, terutama lingkungan social budaya. Ia melakukan pengamatan dan analitis terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat sekitarnya (masyarakat Sunda), kedudukan dan peranan wanita di dalam masyarakat itu, pandangan masyarakat terhadap pendidikan kaum wanita, masalah-masalah yang dihadapi kaum wanita, serta arah perkembangan pendidikan dan kemajuan masyarakat yang sedang berjalan, terutama perkembangan pendidikan dan kemajuan kaum wanitanya.
Pada masa itu sedang terjadi proses perubahan yang bias membawa perbaikan dan kemajuan kepada kehidupan wanita, jika mereka mengikuti arus perubahan itu. Perubahan dimaksud merupakan dampak positif dari dibukanya sekolah-sekolah model Barat bagi masyarakat pribumi (Indonesia) sejak pertengahan abad ke-19.
Lembaga pendidikannya ditunjang oleh perkumpulan yang dinamai Kautamaan Istri yang didirikan pada tanggal 5  Nopember 1910. Perkumpulan ini didirikan oleh sejumlah pejabat dan istri mereka, antara lain Bupati Bandung R.A.A. Martanagara dan Inspektur Sekolah J.C.C. van Bemmel. Itulah sebabnya, sejak itu nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri.
Ada beberapa factor yang menjadi motivasi Dewi Sartika sehingga mendirikan sekolah khusus bagi anak perempuan dan menjadi gurunya.
1.      Melihat kemajuan bangsa Eropa
2.      Sering terjadi wanita terjerumus dalam jurang kehinaan (menjadi pelacur)
3.      Jabatan guru menempati martabat tertinggi dalam tatanan masyarakat
4.      Guru itu memiliki pengetahuan yang luas
5.      Guru berperan sebagai penuntun masyarakat
Walaupun banyak rintangan yang dihadapi, seperti cemoohan dan ejekan, tetapi Dewi Sartika tetap pada pendiriannya. Siang dan malam ia berupaya keras dan terus-menerus bekerja untuk memajukan sekolah yang didirikan dan dipimpinnya. Adapun maksud pendirian sekolah itu sebagai berikut.
1.      Agar orang tua mau menyekolahkan putri-putrinya karena menyadari gunanya sekolah
2.      Agar anak-anak perempuan mau bersekolah sampai tamat
3.      Untuk memberikan bekal hidup kaum wanita melalui kurikulum sekloah yang terus dilengkapi
4.      Agar sikap dan perilaku kaum wanita makin lama makin baik
E.     BAB V
Hubungan Antara Suara Hati Dalam Musik Populer Sunda
di Era Globalisasi
Musik sunda merupakan salah satu musik tradisional yang telah lama dikenal oleh banyak orang. Lirik dari musik Sunda cenderung dalam bahasa setempat. Instrumentasi dan idiom musik yang digunakan juga berkaitan dengan tradisi masyarakat Sunda.
Seperti halnya musik populer, musik Sunda pun banyak diperkenalkan di majalah lokal juga nasional dan surat kabar, disiarkan oleh stasiun radio lokal dan nasional, dan disajikan juga dalam media elektronik.
Adapun fokus dari musik Sunda sebagai musik populer diantaranya : (1) identitas bagi masyarakat dan daerah tertentu, memainkan peran penting dalam dialog kekuasaan antara lokal, nasional, dan global. (2). Dalam artistiknya  menyeimbangkan tradisi dan inovasi, mediasi teknologi dan budaya globalisasi dalam domain media massa, internet dan bentuk-bentuk musik baru dan idiom. (3) bertindak sebagai komentar untuk mengubah masyarakat di zaman pergeseran identitas dan kepekaan.
POP Sunda
Musik populer Sunda (pop sunda) mempunyai daya tarik terhadap para penikmatnya di luar negeri di luar Indonesia. Hal ini menyebabkan telah banyaknya para sarjana yang meneliti mengenai musik pop Sunda. Walaupun, banyak hal yang tidak mereka ketahui. Contoh yang paling terkenal dalam pop sunda diantara sebagiannya yaitu jaipongan dan degung kawih.
Degung kawih dan jaipongan menjadi populer di Indonesia,  meskipun fakta bahwa teks-teks lagu mereka menggunakan bahasa Sunda. Salah satu alasannya yaitu berkaitan dengan standar produksi yang tinggi dari album, dan sebagai popularitas bahwa sunda, sebagai kelompok etnis terbesar kedua di Indonesia, setelah Jawa.


F.     BAB VI
Silsilah Prabu Siliwangi, Matera Aji cakra, Darmapulih Hyang Niskala dan Ajaran Islam
Dalam bab empat ini kita diperkenalkan tentang suntingan dan terjemahan tentang tiga naskah lontar Sunda (kroplak 420, kroplak 421 dan kroplak 422) yang menceritakan tenntng silsilah prabu Siliwangi, matera aji cakra, ajaran pra-islam dan ajaran islam. Di tulis pada daun lontar dan menggunakan peso pagot. Umumnya menggunakan aksara Sunda kuna serta bahasa Sunda Kuna, jawa dan Arab.
A.SILSILAH PRABU SILIWANGI
Inilah silsilah keturunan prabu siliwangi. (prabu siliwangi) berputra mundingsari Ageung, (mundingsari Ageung) berputra mundingsari Leutik, (mundingsari Leutik ) berputra Raden panglurah, (raden Panglurah) berputra pucuk umun, (Pucuk umun) berputra Sareupeun negara.
Sareupeun negara berputra sunan parung, (sunan parung) berputra sunan talaga manggung, (sunan talaga manggung) berputra sunan dampal, (sunan dampal) berputra sunan genteng, (sunan genteng) berputra sunan wanaperih, (sunan wana perih) berputra sunan ciptarengga, (sunan cipta rengga) berputra santoga astra, (santoga astra) berputra Eyang wargasita, (eyang wargasita) bersaudara dengan ki entol nayawangsa.
B.MANTRA AJI CAKRA
Ini panyukat aji cakra
Ku Si Naga Nagini
Sang Manon Sang Matongton
Cupu bahuk udang lulus
Ila-ila ku Sang hyang Waruga Bumi
Ila-ila ku Sang Hyang Waruga Lemah
Satitis Waruga Bumi
Satitis Waruga Lemah
Sang awaking na tutunggul
Megar catang megatkeun apus
Kayu pupug kayu sepug
Kayu ku si balebatan
Kayu ku si Kahuripan
Hurip bayu

Kumeleper buyut agul
Nu neureuy bwana ini
Saha nu kolot sorangan
Basa keur cang keur bungbang
Basa keur lemah.
Langit ngarus Sri Lenggang
Sri maya lenggang
Ngaran lemah caki
Sri Man Sri Wacana
Sri Baduga Maharaja
Sang Ratu Hyang Banaspati
Nu nyahleur di Rancamaya
Ditutug Watubeusi.
Hong hakasa dewakata
Turun bayu ngawisesa awaking
Turun murba ka bwana panca tengah
Ya piyangpi geni, Ya husipat bwana,
Ya hucaya ning bwana, Ya husipat langgeng,
Nu ngawisesa di bwana, Sang ratu Libung Gumur
Nu temetes saking Meukah,
Nu mungguh saking kidul
Dat muliya sapurna hidattulah
Sang Ratu Kilat Barahma,
Nu temetes saking Meukah
Nu mungguh saking kaler
Twa Darma Makilat
Tumurun saking Meukah,
Nu mungguh saking wetan.
Twa jempi larang,
Tumurun saking Meukah.
E Sang Bapa Putih
Sang Baga lumenggang
Rat muta rat mutayu,
Rat saking urip.
C.MANTRA DARMA PULIH HYANG NISKALA
Ini darma pamulih hyang niskala
Ku aci darma pamulih
Ku aci nusya sakti
Ngageugeuh nusya sakti
Ngageugeuh nusya larang
Aci putih herang jati
Di jero ning jembawasa salira
Salawasna dimanikan
Mangka datang ka bulanna
Mukakeun kowari manik

Sawetuna ti tan hana
Salawasna nyarita di bwana
Mangkana nepi ka mangkana
Dongkap ka mangsa
Pulang deui ka tunnana

Bayu tan metu
Sabda tan muwah
Hedap tan ngaruan
Kurungan tan keneng tumuwuh

Aci raga purna jati
Purna-purna palipurna
Tap digalah dikukuhan
Dipagahan ku aci darma pamulih
Sang de dewata kaliwara
Ku berata naga palipurna
Tukuh ku sang hyang caya bayak beulah
Sang hyang caya bayak beulah
Sang hyang cupumanik kilat kancana
Bayarayamram caang beurang
Seda kalang seda sakti mahabara
Ja aing wenang larang leuwih sorangan

Sabda pamulih kajatianana
Darma si gendi nitis tipuncak
Dewata naga nanggeuy na lemah
Sarereana aci bayu
Katema ku nyawa-nyawa
Katema ngereh genter
Tuluy ngambangan hurip
Hedap katineung
Tuluy ka sunyia lawan taya
Tuluy ka sang hyang suka denge
Katema ku betara indra
Tuluy ka panon gelang bwana
Tas ma telas mulih ka jatianana

I pangarumanana bayak beulah
Mayukpuk putih herang ngalenggang
Bayu ning kadi paya ning di teubeuh ku aer mawar
Arum-arum akub-akub
Metu aci pangarumanana
Awaking kastori jati ( kastori jati)
Awaking ku cimanik larang dewata
Kurungan manik teja putih
Ngaran panglebur bajra
Ku cimanik larang dewata
Kurungan manik teja putih
Ngaran panglebur raga awaking
Teka lebur jadi cai
Tas ma telas mulih ka jatianana

Raga katema ku hyang bayu pretiwi
Katema ku pwa basuki
Katema ku syi awak larang
Katema ku sang hyang gresik putih
Los ka sawarega ri kahyangan
Buni pangruwatanana
Ruwat ku sang darmajati
I panglembur ku sang hyang guru tasmat (satmat)

Punika kula sasadu
Kang nganulis ping ti kanggang
Sang amaca pun
assadu maring hyang widi
mangra betara sakabeh
D. AJARAN ISLAM
Bismilah hirahman hirahmin
Assahhadu anla ilahlalah
Wassa adu ana mukadaman rasululah

Sun angawruhi satuhune
Ora nu kasine mbah ing
Hanane kang tetep kang langgeng
Kang suci kang luwih suci
Kang murba ing diri
Ning wujud helmu anu suhud
Lah iya maher luhung
Lah iya hora kawula dadi gusti
Lah iya maher luhung

Punika tedak saking agama suci
Saking kangjeng pangeran sumanagara

Asahhadu sahe karbanyar
Suci alahheka rasululah
Banyu suci metu saking
Ti mulah karsa allahhu
Hing dina dina saptu

Usali parilan anglalahor ri
Areba urakatin adaan imaman
Lilah ita alah allah huhabar

Usali parilan anglalahor ri
Areba urakatin adaan (imaman)
Lilahhi taalah, Alah hu akbar

Usali parelan magribi
Sarasa rakatin adaan ( imaman)
Lilahhi taalah, alahuu akbar

Usali parelan isa’i
Areba ngurakaatin adaan imaman
Lilahi ta alah, Alah huhabar

Usali parewas subuh’i
Rakataheni adaan imaman
Lilahhi taalah Alahu akbar

Kabira walkamdu lilahhi kasirran
Pasubahanalah hibukratan wahasila

Subahana rabiyal halin awabikamdihi
Subahana rabiyal alim wabihamdihi
Ruku
Samiyalah uliman
Uroba lakal hamdu

Subahana rabiyal lala wabikam
Sujud; tangi sujud
Wabi parreli wara amni
Warah jukni wadini wah apwani
Atasiyat tulilahhi
Salaman alaeka ahannabiyu
Waramaktulahhi wahbarrekattuh
Asalamun alaekatuh
Annabiyu warshmsttulahiwabarakattu
Usalimun alaena paalla ibadillah him saliim

Hasada hanlahhilah hahilalah
Waassaduana muhamandan rasululah
Alah umasali alah muhamaddin
Walali muhamad
Samialah huliman kamida
Hurabana lakal kamdu
Rabu samawati wal harli

Nini serepet kaki serepet
Sing kidang majangngan nerepet
Ta sing batu kayu watu
Pupu repug rerep sirep
Sirep diingu ku puti
Lebur ajur dadi banyu
Lebur diksa jata putih
Sang ratu maring alah
Masup metu maring guha
Bubar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar